Search This Blog

BANYAKNYA HUTANG SHOLAT DAN WAJIBKAH DILUNASI

Sholat lima waktu merupakan hal yang primer dalam kehidupan muslim di tiap harinya dalam kondisi apapun, sebagai jalinan penghambaan makhluk kepada ALLAH SWT dan peribadatan yang suci. Sampai syetan tak lelah untuk mengajak mengabaikannya. Yuwaafiqullahu lana.

Selayaknya hutang uang yang ditebus dengan uang pula, sholatpun demikian. Berapapun muslim memiliki hutang sholat, selama nyawa masih ada. Maka, Sholat itu wajib dilunasi.

Lalu, bagaimana jika muslim lupa/ragu-ragu dalam jumlah hutang sholatnya ?

Menurut imam qoffal kalangan madzhab syafii, wajib bagi muslim melunasi jumlah hutang sholat yang ia yakini. sedangkan menurut imam qodhi husein kalangan madzhab syafii, wajib melunasi hutang sholat dengan melebihkan jumlah hutang sholat yang diyakini ( pendapat qodhi husein merupakan pendapat terkuat di madzhab syafii ). 

Ilustrasinya : muslim lupa jumlah hutang sholatnya entah 200 x / 190 x. Maka, yang diyakini ialah yang terbanyak diantara pilihan tadi. Yakni, 200 ( menurut imam qoffal ), atau melebihkan jumlahnya menjadi 205 hutang sholat ( menurut qodhi husein ).

Jika muslim meninggal dan belum sempat melunasi, masih adakah kesempatan untuk melunasinya ?

Ulama berselisih dalam hal ini.

Menurut madzhab syafii, Hutang sholat yang berlaku fardhu ain tidak bisa dilunasi oleh ahli warisnya/orang lain. Sedangkan, Menurut golongan murid imam syafii ( ashab syafiiyah ), hutang sholat bisa dilunasi oleh pelunasan orang lain. Bahkan, Menurut imam baghowi. hutang sholat mayyit bisa juga diganti dengan membayar tebusan ( fidyah ) tiap sholat 1 mud. 

Dari ketiga pendapat tadi, pendapat terkuat ialah pendapat yang pertama. Sedangkan, pendapat yang kedua dan ketiga adalah pendapat lemah ( pendapat muhorroj dan pendapat muhktar ). Wallahu a'lam bisshowab.

Referensi :

وَلَو كَانَ عَلَيْهِ فوائت لَا يعلم عَددهَا قضى مَا تحقق تَركه فَلَا يقْضِي الْمَشْكُوك فِيهِ على مَا قَالَه الْقفال وَالْمُعْتَمد مَا قَالَه القَاضِي حُسَيْن أَنه يقْضِي مَا زَاد على مَا تحقق فعله فَيَقْضِي مَا ذكر

[نووي الجاوي ,نهاية الزين ,page 10]

{فَرْعٌ} لَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلَاةٌ أَوْ اعْتِكَافٌ لَمْ يَفْعَلْهُمَا عَنْهُ وَلِيُّهُ وَلَا يَسْقُطُ عَنْهُ بِالْفِدْيَةِ صَلَاةٌ وَلَا اعْتِكَافٌ

* هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَالْمَعْرُوفُ مِنْ نُصُوصِ الشَّافِعِيِّ فِي الام وغيره ونقل الْبُوَيْطِيُّ عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ قَالَ فِي الِاعْتِكَافِ يعتكف عنه وليه وفى وراية يُطْعِمُ عَنْهُ قَالَ الْبَغَوِيّ وَلَا يَبْعُدُ تَخْرِيجُ هَذَا فِي الصَّلَاةِ فَيُطْعَمُ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ 

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٣٧٢/٦]

(تنبيه) من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه، وفي قول أنها تفعل عنه - أوصى بها أم لا ما حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه.

[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٣٣/١]

Post a Comment

0 Comments