Berselilit merupakan kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat indonesia pada khususnya, karna kurang nyamannya makanan yang berada di sela-sela gigi. Apalagi yang giginya berlubang, malah bisa membuat gigi sakit.
Menjadi keniscayaan Berselilit ( mengeluarkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi ) dilaksanakan di dalam sholat juga bagi sebagian kalangan muslim dan adakalannya sisa-sisa tadi di telan kembali dan ada juga yang meludahkan makanan tadi.
Bagaimana fikih menanggapi kejadian tadi. Apakah membatalkan sholat/tidak ?
Ada khilaf madzhab dalam masalah ini, sebagian menyatakan tidak batal dengan ketentuan. Yaitu pendapat madzhab syafii dan hambali. Jika memang menelan sisa-sisa makanan yang sedikit tadi, karna ikut aliran ludah ( bukan karna sengaja ),serta tanpa adanya gaya mengunyah. Sedangkan pendapat imam rahibaniy dalam kitab matholib ulin nuha dari kalangan madzhab hambali berpendapat. Bahwa tidak membatalkan hal tersebut. Karna menelan sisa-sisa makanan yang sedikit tadi tidak kategori kegiatan makan yang membatalkan sholat meskipun tidak mengalir oleh ludah. Kecuali, jika ada gaya mengunyah, maka bisa membatalkan.
Referensi :
# كشاف القناع لبوهتي
(وَلَا بَأْسَ بِبَلْعِ مَا بَقِيَ فِي فِيهِ) مِنْ بَقَايَا الطَّعَامِ مِنْ غَيْرِ مَضْغٍ (أَوْ) بَقِيَ (بَيْنَ أَسْنَانِهِ مِنْ بَقَايَا الطَّعَامِ بِلَا مَضْغٍ مِمَّا يَجْرِي بِهِ رِيقُهُ وَهُوَ الْيَسِيرُ) لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يُسَمَّى أَكْلًا (وَمَا لَا يَجْرِي بِهِ رِيقُهُ بَلْ يَجْرِي بِنَفْسِهِ وَهُوَ مَا لَهُ جِرْمٌ تَبْطُلُ) الصَّلَاةُ (بِهِ) أَيْ بِبَلْعِهِ هَذَا مَفْهُومُ مَا فِي الرِّعَايَةِ وَالْفُرُوعِ وَالْإِنْصَافِ وَالْمُبْدِعِ، وَصَرِيحِ كَلَامِ الْمَجْدِ، حَيْثُ قَالَ وَكَذَلِكَ إذَا اقْتَلَعَ مِنْ بَيْنَ أَسْنَانِهِ (مَا لَهُ جِرْمٌ) وَابْتَلَعَهُ (بَطَلَتْ) صَلَاتُهُ عِنْدَنَا
# شرح زاد المستقنع للشيخ محمد بن محمد المختار الشنقيطي الحنبلي
وفصّل بعض العلماء فيما يكون بين الأسنان فقال: إن اشتغل بقلعه أثناء الصلاة ووضعه بين أسنانه كحال الطاعم والعاض فإنه يحكم ببطلان صلاته؛ لأنه في صورة الآكل.
أما لو أنه استخرجه مباشرة فإنه لا يحكم ببطلان الصلاة لكونه لم يطعم
# مطالب اولى النهى
(وَلَا) تَبْطُلُ (بِبَلْعِ مَا بَيْنَ أَسْنَانٍ) مِنْ بَقَايَا الطَّعَامِ (عَمْدًا بِلَا مَضْغٍ وَلَوْ لَمْ يَجْرِ بِهِ رِيقٌ) ،
Lalu bagaimana jika efek dari berselilit tadi hanya meninggalkan rasa, misalnya habis minum kopi dan sudah berkumur tapi masih ada rasa-rasa kopi di ludah dan ludah ditelan saat sholat?
Dalam hal ini, sholat masih sah, karena bekas rasa dan bau itu tidak menunjukkan adanya materi barang yang tercampur di ludah. Sehingga ludak menjadi tercampur ( suci tidak mensucikan/tidak murni ). Kecuali, jika ludah berubah warna oleh kopi tadi maka, sholat bisa batal.
Referensi :
حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 436 مكتبة دار الفكرأَمَّا مُجَرَّدُ الطَّعْمِ الْبَاقِي مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ فَلا أَثَرَ لَهُ لانْتِفَاءِ وُصُولِ الْعَيْنِ إلَى جَوْفِهِ وَلَيْسَ مِثْلُ ذَلِكَ الأَثَرُ الْبَاقِي بَعْدَ الْقَهْوَةِ مِمَّا يُغَيِّرُ لَوْنَهُ أَوْ طَعْمَهُ فَيَضُرُّ ابْتِلَاعُهُ لأَنَّ تَغَيُّرَ لَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بِهِ عَيْنًا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ بِعَدَمِ الضَّرَرِ لأَنَّ مُجَرَّدَ اللَّوْنِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اكْتَسَبَهُ الرِّيقُ مِنْ مُجَاوَرَتِهِ لِلأَسْوَدِ مَثَلا وَهَذَا هُوَ الأَقْرَبُ أُخِذَ مِمَّا قَالُوهُ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ إذَا تَغَيَّرَ بِمُجَاوِرٍ اهـ


0 Comments